Merefleksikan Pendidikan di Kota Bekasi

Iseng-iseng googling, saya menemukan tulisan dari website, mungkin anda bisa membaca ini dahulu sebagai referensi

===

Separah Itukah Penerimaan Siswa Baru di Kota Bekasi ?

Masa-masa menunggu untuk pendaftaran siswa baru untuk sekolah negeri masih berlangsung. Kasak kusuk bentuk kecurangan yang dilakukan oleh “panitia” masih saja terdengar.

Tadi pagi ketika berdiskusi dengan seorang guru SD dan calon siswa kelas 7 SMPN di Bekasi Kota sempat dipertanyakan oleh guru tersebut.

Sebagai guru tentu beliau tahu betul proses koreksi kasil UN kemarin. Selain itu gambaran seorang siswa pun dapat diperkirakan, seberapa tinggikah prestasi yang dicapai. Saya pikir perkara mudah untuk mencurigai, ketika proses belajar mengajar seorang anak pas-pasan, sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan hasil yang sangat tinggi.

Yang mengherankan bagi guru tersebut, mengapa hasil UN yang terpampang di PPDB online bisa melambung tinggi. “Dimana permainan itu dilakukan?” tanyanya ketus. Beliau mengatakan bahwa kemungkinan untuk melambungkan nilai setelah online dilakukan oleh guru juga sangat kecil.

Kabar tentang pelambungan nilai UN di PSB Online rupanya sudah pula menjadi rahasia bersama. Kalaupun itu benar, seharusnya penginput data diaudit sejujur-jujurnya. Betulkah, nilai yang diinput (upload) itu sesuai dengan nilai UN yang sebenarnya. Seandainya itu saja terus dipermainkan, akan kemana arah pendidikan Indonesia secara umum.

Selain kecurigaan awam seperti itu, disinyalir juga pemanfaatan uang dalam penerimaan peserta baru juga mengemuka. Zul (12), salah satu calon siswa SMPN 3 Bekasi, yang sementara ini sudah diterima di SMPN 18 Bekasi mengatakan bahwa temannya sudah diterima di SMPN 03, meskipun nilai UN hanya 19,  dengan membayar Rp. 4.000.000. Belum lagi penyelewengan-penyelewengan jalur lain; “bina lingkungan” atau “politik”. Padahal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan peraturan Nomor 60 Tahun 2011 tentang Larangan Pungutan di Tingkat SD/MI dan SMP/MTs yang berlaku sejak 2 Januari 2012.

Tentu kabar tersebut harus mendapat penjelasan dari Diknas Bekasi dan diuji kebenarannya. Apa yang sebetulnya terjadi di meja panitia penerimaan peserta didik online di Bekasi. Hal itu penting untuk dilakukan, untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang kasak-kusuk tersebut dan mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat.

Sebetulnya kabar tentang “ketidakberesan” penerimaan siswa baru baik di SMPN maupun SMUN di Kota Bekasi ini sering terdengar dengan berbagai versi. Dan mungkin, dengan “rahasia umum” yang dipermaklumkan ini, menandakan bahwa di sana ada masalah besar.

Dampak yang timbul dari ketidakjujuran ini akan sangat luas. Sistem yang ada dapat dipastikan akan berhenti berputar, frustrasi masyarakat akan merajalela, tidak ada penghargaan atas prestasi anak didik, dan menumbuhkan akar-akar korupsi di pemerintah kota Bekasi.

===

Fenomena ini sering sekali muncul. Tidak hanya tahun-tahun ini, tetapi jauh saat saya masih menjadi siswa Sekolah Dasar di SDN Duren Jaya XIV, praktek penyelewengan seperti ini sudah umum.

Saya adalah alumnus angkatan 2012 dari SMP Negeri 3 Bekasi yang dibicarakan di tulisan di atas tadi😀.

Dulu waktu tahun saya masuk SMP, alhamdulillah waktu itu masih kali pertama Sistem PSB Online diberlakukan, jadi masih sedikit penyelewengan yang ada karena perbedaan sistem terdahulu yang menggunakan jalur mandiri dibandingkan tahun saya masuk yang menggunakan jalur online.

Tanpa bermaksud merendahkan siapapun,mari kita bahas, apa yang menjadi penyebab demikian ?

Pertama yang pasti adalah, orang tua selalu menginginkan sekolah yang terbaik untuk anaknya. Sudah hal umum bahwa setiap orang tua memperjuangkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Menurut saya, ada hal yang salah. Mengapa tidak kita biarkan si anak untuk menetapkan sendiri sekolah sesuai kemampuannya ? Karena sudah pengalaman terdahulu, banyak anak-anak yang disekolahkan orangtuanya tidak sesuai minatnya justru kewalahan memahami pelajaran di sekolah tersebut. Nah, sebaiknya orangtua memberi arahan kepada si anak, memberi masukan, dan menuntun hingga si anak bisa menentukan sendiri sekolah pilihannya.

Dulu, jujur SMP Negeri 3 bukanlah pilihan utama saya. Pilihan saya lebih ke SMP Negeri 11 dan SMP Negeri 32 karena dekat dari SD. Orang tua saya memberi kebebasan kepada saya untuk menentukan pilihan SMP saya. Hingga akhirnya pengumuman NEM dan ternyata jauh di atas target saya, akhirnya dengan berani saya mencoba SMP Negeri 3 dan diterima.

Intinya adalah, berilah kebebasan kepada anak, tugas orang tua hanya mengarahkan dan memberi masukan yang baik, sisanya serahkan kepada anak.

Lalu yang kedua, daya juang anak itu kurang. Mari kita lihat, yang mengantar anak untuk mendaftar, yang mengurusi segala macam prosesi pendaftaran adalah orang tua. Inilah fenomena yang sudah terjadi saat ini.Alangkah baiknya apabila orangtua hanya menemani si anak untuk mendaftar, sisanya seperti proses pendaftaran dan pengisian data biarlah si anak yang melakukannya untuk melatih daya juangnya. Daya juang yang tinggi akan menyebabkan mental yang kuat untuk siswa saat kegiatan menimba ilmu dan perjuangan lainnya.

Dulu waktu saya daftar SMP, ibu saya cuma pada hari pertama dan pas daftar ulang. Hari kedua saya nungguin sendirian pengambilan bukti pendaftaran, dan hari daftar ulang saya sendirian ngambil bukti diterima. Baru pas lihat form pengisian harus memakai tanda tangan orangtua, saya menelpon ibu saya. Demikian juga pas daftar SMA, segala persyaratan saya yang ngurus sendiri karena sudah terbiasa ngurusin sendiri waktu daftar SMP dulu.😀

Terakhir, sekolah favorit bukanlah segalanya. Memang sih, diterima di sekolah favorit ada suatu kebanggaan tersendiri. Tapi, kalo tidak bisa mengikuti pelajarannya, sama saja. Dulu waktu mau masuk SMP, saya sudah menyusun rencana-rencana lanjutan apabila saya tidak diterima di sekolah negeri (Waktu itu pilihan SMP Negeri ada 3, saya memilih SMP 3, SMP 11, dan SMP 32).Apabila saya gak diterima di 3 sekolah negeri tersebut, saya siap bersekolah di sekolah swasta seperti PGRI atau Ananda. Dimanapun saya sekolah, toh yang menunjukkan pribadi saya bukanlah kualitas sekolah yang saya masuki, tetapi tergantung kualitas berpikir kita.

Mungkin sekian dari coretan pemikiran saya, mudah-mudahan sistem pendidikan di Kota Bekasi menjadi lebih baik lagi. Alangkah baiknya apabila orangtua siswa memberikan kebebasan ke anaknya untuk menentukan sekolah yang ‘sesuai’ dengan minat dan bakatnya. Ingat,memasukkan anak ke sekolah yang ‘tidak sesuai’ dengan minat anak sama saja dengan menyiksa anak tersebut!😀

Majulah Pendidikan di Kota Bekasi! Majulah Pendidikan di Indonesia!

4 thoughts on “Merefleksikan Pendidikan di Kota Bekasi

  1. Memang jaman sekarang byk org tua yg dominan mengatur sekolah anak…bukan mengarahkan sesuai minat anak. Shg byk kejadian anak stress..tertekan..dan pindah sekolah. Ini bukan cuma di sekolah umum, di pesantren pun juga ada bbrp kasus spt ini.

    • Sekolah dimanapun,Tuhan akan menunjukkan jalan yang terbaik🙂

      NEM tinggi ga menjamin,justru banyak temen saya dengan NEM tinggi yang realita peringkat di kelasnya ternyata rendah,justru temen2 saya yang nemnya 25-26-an banyak yang menduduki peringkat tinggi di SMP saya waktu itu,beberapa diantaranya malah banyak yang dapet japres di smansa

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s