Aku dan Kereta..

4 April 2013. Siang hari, sepi sekali. Iseng-iseng saya menulis tulisan ini di Stasiun Bandung. Saya kayuh sepeda walaupun sempat kesasar sedikit di daerah alun-alun dan sempat terhenti karena hujan, akhirnya saya tiba di stasiun ini dengan tubuh sedikit basah. Basah itu tidak seberapa dengan pemandangan kereta yang cukup membuat saya bernostalgia sedikit. Ditambah alunan musik dari grup band stasiun, dan wifi gratisan disini yang memutuskan saya menulis sebentar di blog ini.

Aku dan kereta. Mengapa saya beri judul demikian? Karena kereta menyimpan banyak kenangan di hidup saya. Banyak hal yang saya lalui mulai saya kecil hingga sampai saat ini bersama kereta.

Dulu sewaktu saya kecil (ini seingat saya ya,hehe, maaf kalo ada yang salah), saya bersama keluarga saya lagi naik kereta dari Stasiun Bekasi ke Stasiun Jatinegara (kalau tidak salah). Nah waktu itu saya lagi baca buku, asyik banget waktu itu. Nah kereta sudah sampai Stasiun Jatinegara. Karena waktu itu naiknya KRL yang pintunya otomatis, maka saya tidak sadar bahwa sudah sampai tujuan karena dinginnya udara disitu. Nah saya buru-buru keluar dan tidak sadar bahwa pintunya sudah mau menutup. Maka sebagian tubuh saya terjepit di pintu. Untungnya langsung dibuka lagi pintunya sehingga tidak membuat luka tubuh saya. Sejak saat itu saya trauma dengan pintu otomatis (dan sekarang saya tertawa jika mengingat hal tersebut :D).

Dulu sewaktu keluarga saya masih belum punya mobil, kami pulang kampung dengan menaiki kereta. Masih inget dulu deh, beli koran berapa buah buat dijadiin alas lesehan karena ga semuanya tidur di tempat duduk kereta, haha. Waktu itu kami biasa menaiki Kereta Gumarang ke Surabaya. Asyik deh pemandangannya, sawah dan ladang terhampar luas, udara masih bersih. Beda pas mudik naik mobil, asap dimana-mana.

Dulu saya berani ke Jakarta sendirian saat naik kereta. Kelas 9 iseng main ke stasiun UI sendirian, sudah tak terhitung berapa kali. Saat saya jenuh waktu SMP dulu, saya biasa main ke Stasiun Bekasi dan hilanglah rasa jenuh saya. Melihat kereta berjalan, mengingatkan saya bahwa saya tidak selamanya diam di tempat saya, di kampung halaman saya. Pasti nanti tiba saatnya saya akan berjalan dari peron saya entah kemana dan kembali lagi saat sudah sukses, amin.

Filosofi kereta : Kereta punya relnya masing-masing. Sama seperti manusia. Manusia punya jalan hidupnya masing-masing dan caranya masing-masing untuk mendapatkannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s