Dari iseng beli menjadi kesukaan

5 April 2013

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Agak jenuh juga, selama 4 jam sejak pukul 6 sore tadi belajar coding, ya otodidak sih dari bundel-bundel soal yang ada. Tapi sejak aku baca suatu tulisan di TOKI News, ternyata jam terbang belajar pemrograman yang optimal itu sekitar 10.000 jam. Dan mulai detik ini aku bertekad akan menghabiskan jam terbang tersebut! Karena yang aku tahu, selama ini aku belajar pemrograman hanya saat aku mau saja atau saat aku mood saja. Inilah yang membuat belajarku tidak optimal. Kubulatkan tekadku, pokoknya aku harus bisa mendapatkan mimpiku di IOI dan TOKI, I believe God give miracles to me, amin.

Sejenak melepas jenuh, kuputar lagu melalui VLC Media Player di laptopku yang beroperating system Ubuntu 12.10. Mengapa bukan Windows? Sebenarnya laptop ini kupasang dual OS yaitu Windows XP SP 2 dan Ubuntu 12.10 ini, tetapi entah mengapa aku lebih suka dan sering menggunakan Ubuntu daripada Windows. Aku hanya menggunakan Windows di saat aku mengerjakan tugas sekolah, walaupun sebenarnya aku berharap bahwa penggunaan operating system di sekolahku menggunakan Linux, haha, seems impossible.😀

Melenceng di topik, oke tapi lanjut aja deh. Saat ini aku semakin suka memakai operating system Linux. Aku jadi ingat pertama kali mencoba OS Linux, waktu itu kelas 9 SMP saat iseng beli buku Ubuntu Untuk Pemula. Padahal aku memilih buku itu hanya random (dan murah + dapet bonus kaset :3) karena buku komputer lainnya cukup membosankan untuk dibaca mengingat waktu itu aku habis mengerjakan soal UAS SMP sehingga membaca kode pemrograman cukup membuat jenuh bagiku saat itu. Berawal dari mencoba, akhirnya terinstalllah OS Linux pertamaku : Ubuntu 11.10, tadaa!

Dari tulisan-tulisan yang aku baca di internet, banyak orang yang enggan memakai Linux karena harus memakai terminal jika ingin melakukan sesuatu seperti menginstall dan sebagainya. Tapi tidak kok, bisa juga install manual melalui Software Center yang tersedia tanpa harus membuka terminal (walaupun sekarang aku lebih suka menginstall melalui terminal karena mengasyikkan :3). Seseram apapun Linux bagi kalian, pasti akan terkalahkan oleh tampilannya yang menyamai OS Mac (dan ternyata saya baru tahu kalau Mac dan Linux itu sama-sama dari UNIX sehingga efek-efek di Linux mirip sama Mac).

Perjalanan berlanjut ke SMA. Aku mempunyai teman segugus sewaktu MPLS yang juga penggemar Linux sehingga kita suka otak-atik Linux bareng. Dan ada suatu kejadian yang mempertemukanku dengan suatu komunitas linux yang serius. Waktu itu sedang ada pameran expo di Gedung Sabuga di samping ITB (my future campus, maybe :p). Kebanyakan yang ngisi stand pameran tuh anak-anak SMK (dan salut sama anak SMK 4 karena aplikasinya keren dan mainannya udah OOP C++ aja, hebat!). Puas melihat stand-stand dari anak SMK 4, perhatianku tertuju pada satu meja di samping panggung. Ada kakak mahasiswa ITB yang menampilkan angklung yang bisa dimainin di komputer. Jadi angklung kayu asli yang dioperasikan dari komputer melalui software. Biasa saja sih sebenarnya karena banyak juga yang membuat aplikasi semacam itu, tetapi yang membuat aku kagum itu.. wait wait, itu OS di laptopnya apa? What? Bukan, bukan Windows 7. Tetapi kaka itu menggunakan OS Ubuntu! Yap, bikin aplikasi secanggih itu menggunakan OS Ubuntu. Wah hebat, aku saja coding masih pakai windows, pake Ubuntu hanya sebatas untuk dengerin lagu + mainin terminal.

Langsung saja aku hampiri dia, tanya-tanya dan kenalan.. ternyata dia ka alvin mahasiswa TF ITB. Wah hebat, melenceng jauh dari dugaanku yang mengira dia anak IF atau SI. Ngobrol-ngobrol, dan dia berkata, “Kamu sudah tahu IGOS belum?” “IGOS? Apa itu kang?” “IGOS itu semacam komunitas. Kalau kamu mau main, dateng aja ke Labtek VI ITB”.

igos4

Karena aku masih belum menanggapi serius, jadi waktu itu aku hanya mengiyakan saja. Tetapi aku sempat meminta nomor handphone kaka itu, jadi kalau aku mau main kesana bisa ngabarin.

Fase waktu berganti ke (aku lupa kapan, bodo amat ah, haha), waktu itu lagi di perpustakaan ITB, iseng baca-baca disana karena bukunya bagus. Setelah puas, lalu aku berjalan keluar dari perpustakaan. Perhatianku tertuju pada pintu POSS IGOS yang terbuka. Perlahan-lahan, akhirnya aku tiba di depan pintunya. Kuketuk.. tok tok tok! Ternyata ada 4 orang kaka-kaka yang sedang berdiskusi. Ada ka alvin juga. Yaudah aku masuk, dan kenalan sama kaka-kaka disana yang ternyata kaka-kaka mahasiswa semua. 1 dari UPI dan 2 orang dari UNIKOM. Ditanya ngapain kesini, aku jawab saja,”Iseng aja, mau main”

Sejak saat itu, aku jadi suka main ke POSS IGOS. Kalau buka, aku bisa sekalin tanya-tanya soal Ubuntu sama kaka-kaka disana. Kalau tutup, aku bisa memanfaatkan hotspot dari IGOS untuk mendownload ISO-ISO Linux,haha. Kenceng loh, bisa sampai 2.5 Mbps karena servernya langsung dari ITB, asyiknya juga bisa buka website Kambing UI yang ISO nya jauh lebih lengkap daripada Mirror ITB. Karena banyak ISO untuk dicoba, akhirnya laptopku sering dijadikan kelinci percobaan buat buka ISO Linux lewat Virtualbox😀

Fase waktu berganti lagi ke hari pertama pelatihan IGOS. Pelatihan berlangsung di salah satu ruang kelas di Labtek VI ITB. Alhamdulillah ngerasain juga sensasi masuk ke ruang kelas di ITB, hehe. Layar proyektornya keren, tinggal pake remote bisa langsung turun, haha, beda sama 5. Pelatihan pertama dimulai dan dijelaskan paket-paket materinya, yaitu :

1. Intro + Instalasi

2. Install Paket + Pengenalan Desktop Environment

3. CLI (Command Line Interface)

4. CLI + Bash

5. Troubleshooting

6. Networking basic + konsep

7. Server : File Sharing

8. Server : Web + Programming HTML, PHP, MySQL

9. (lanjutan dari 8)

10. Programming Java

11. (lanjutan dari 10)

12. Programming Android

13. (lanjutan dari 12)

14. Remastering

15. (lanjutan dari 14)

16. Ujian

1 course itu setiap hari sabtu per minggunya. Jadi 16 minggu atau 4 bulan akan kulalui untuk materi IGOS sebelum ke ujian. Yang ikut pelatihan untuk tahun ini kebanyakan anak mahasiswa, haha. Anak SMA cuma 2 orang, yaitu aku dan temen segugus waktu MPLS, Ahmad Chandra. Semua siswa pelatihan dibagi lagi perkelompok, dan kelompok aku anak kuliah semua (STEI ITB dan UNIKOM), wahaha kacau dah.

Buat yang tertarik ikut pelatihan ini, bisa langsung datang ke POSS IGOS ITB setiap hari sabtu jam 10.00, walaupun tidak ikut materi pertama kemarin, tidak apa-apa. Datang saja, nanti ada kaka-kaka yang siap membantu. */ Ini kenapa jadi promosi ya? Biarin ._. /*

Mungkin ini sepotong ceritaku tentang ketertarikan dengan Linux. Aku tak peduli meskipun banyak yang menyindirku karena aku pemakai Linux sendiri di kalangan sekolah. Yang penting ini gratis dan pastinya legal!😀

My Ubuntu Desktop
My Ubuntu Desktop

2 thoughts on “Dari iseng beli menjadi kesukaan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s