“Benang ini baru terulur” (Prolog)

“Di peron 3 akan tiba Kereta Argo Parahyangan menuju Bandung. Penumpang diharap segera bersiap diri untuk memasuki kereta!!”

“Aku pergi duluan ya. Kamu jaga diri ya disini.” katanya sambil membawa koper berat sambil mengusap air matanya yang basah.

“Iya, kamu juga jaga diri ya, hati-hati disana.” kataku dingin. Bukan karena aku suka dia pergi, justru karena aku tidak suka dan masih tidak siap menerima perpisahan ini.

Perpisahan ini mungkin sudah jalan hidup. Aku dan dia mempunyai ketertarikan yang sama, tetapi kami punya jalan hidup masing-masing. Dia diterima di STEI ITB, sedangkan aku lebih memilih untuk berkuliah di dekat rumahku, yaitu di Fasilkom UI. Aku mempunyai prinsip berkuliah dimana aja tidak berpengaruh, di Jakarta pun sama saja. Tetapi dia lain, dia ingin merasakan suasana baru. Prinsip kami berbeda sekali, tapi cinta tidak harus selalu sama persepsi kan?

Perpisahan ini sungguh melebarkan jarak kami. Aku dan dia sudah menjalani hubungan sejak kelas 1 SMA. Hanya karena aku dan dia mempunyai ketertarikan yang sama, yaitu kami sama-sama suka belajar hingga larut malam. Sungguh aneh, kami juga mempunyai kesamaan dalam buku yang disukai. Itulah awal perkenalan kami. Waktu itu aku meminjam buku Programming Challenges yang kebetulan baru terbit dan hanya ada satu di perpustakaan sekolah. Baru mau keluar dari pintu, ada yang menghadang.

“Eh lo, kenapa ambil buku itu? Kan gue juga mau minjem buku itu!”

“Lah kenapa lo sewot? Kan gue yang pertama kali ngambil, berarti gue dong yang punya hak untuk minjem buku ini!” kataku kesal. Siapa sih cewek ini? Dateng-dateng marah, ga punya sopan santun sama sekali.

“Gak bisa gitu dong, tadi gue udah baca duluan buku ini, terus tadi gue ke toilet dan naruh lagi buku itu. Sekarang gue mau ngambil lagi, kenapa lo ambil buku itu begitu aja?”

“ Sekarang gue tanya ke lo, kenapa gak lo pinjem dulu buku ini dulu dan nitip dulu ke penjaga perpustakaannya? Baru deh ke tolilet. Kalo begini ceritanya, kan gue gak tahu lo mau minjem buku ini juga!” kataku geram. Keras kepala juga cewek ini, menyebalkan.

“Pokoknya titik, buku ini gue yang minjem. Salah lo sendiri ke toilet dulu. Udah, permisi!” kataku kesal. Ngurusin ini cuma buang-buang waktu, masih banyak urusan lain yang harus dikelarin.

“Eh eh! Tunggu dulu! Woi! Dasar lo!” aku mendengar dia berteriak seperti itu, kesal sepertinya,haha. Sudahlah, cewek seperti itu ga perlu diurusin. Masih banyak urusan lain yang harus aku lakukan.

Siang hari sungguh menyengat sekali. Matahari tidak hentinya menyorotkan sinarnya. Tumben, Jakarta  tidak bersahabat hari ini. Sambil meneduhkan diri di kantin sekolah, aku membuka laptop. Mengerjakan pekerjaan sekaligus hobiku. Aku suka sekali dengan hal yang berbau komputer. Sambil mengetikkan kode-kode pemrograman yang ada di buku yang baru kupinjam tadi, tiba-tiba ada yang menepukku.

“Eh.. emm, hai. Gue boleh ngomong sebentar?”

Siapa orang ini? Tunggu, ini bukannya yang marah-marah tadi di perpustakaan ya? Ngapain dia kesini! Aku masih kesel dengan sikapnya tadi.

“Ngapain lo kesini? Masih males gue gara-gara tadi.” Kataku kesal. Emang bener, kesel banget gara-gara tadi.

“Gue mau minta maaf gara-gara tadi, maaf ya tadi kelewat emosi banget tadi marahnya. Gue tahu gue salah, jadi maafin gue ya.”

Kutatap wajahnya, kayaknya dia bener mau minta maaf sih. Mukanya terlihat cemas, mungkin masih merasa bersalah karena tadi. Maafin gak ya? Haha, gak semudah itu..

“Hmm, maaf gue masih gak bisa.”

“Gak bisa kenapa? Please dong tolong maafin gue!!” katanya makin cemas.

“Gak bisa gak maafin.” Kataku sambil tersenyum. Ya sudahlah, aku maafkan,haha. Kasihan juga.

“Makasih ya.” Katanya tersenyum sambil ketawa. Mungkin dia malu karena sempat panik tadi. Ya sudah, ini impaslah.

“Eh iya, belum kenalan. Nama gue Dika, lo siapa?” kataku membuka percakapan. Sesama manusia harus saling mempererat komunikasi, ya kan?

“Oh Dika. Gue Syifa. Salam kenal ya.” Katanya sambil membenarkan posisi kacamatanya. Cukup manis juga nih cewek, bagiku cewek berkacamata kecantikannya bertambah 5%.

“Yaela kaku amet pake salam kenal, kayak Facebook aja,haha.” Kataku.

Dia tertawa. Tertawa dia tidak terbahak-bahak. Tertawanya pelan tapi senyumnya lebar. Manis juga. Bagiku cewek yang tertawanya pelan tapi senyumnya lebar kecantikannya bertambah 5% lagi. Aku mencari-cari pulpen di sakuku.

“Eh, ngomong-ngomong lo mau baca buku ini kan? Ambil aja nih. Tadi gue udah baca sebagian.”

“Beneran?” katanya tidak percaya.

“Iya, ambil aja.” Kataku sambil menyerahkan buku itu ke dia.

“Makasih ya! Oh iya, gue udah dijemput nih. Gue pergi dulu ya!” katanya sambil melambaikan tangan, pulang.

Dia melambaikan tangannya. “Dika, aku pergi dulu ya!” katanya dari balik jendela Kereta Argo Parahyangan yang hendak berangkat meninggalkan Peron Stasiun Gambir ini.

Aku terbuyar dari lamunanku. Lambaian tangannya saat ini sama seperti lambaian tangannya 3 tahun yang lalu. Masih manis, masih cantik. Akhirnya tiba waktunya dimana jarak akan semakin jauh. Dimana benang akan terus mengulur dan semakin membuat jarak yang jauh.

Langit yang biru kini menjadi kelabu, suram. Tuhan yang telah menggoreskan kuas kelabu di langit biru ini, dan yang mengulur benang jarak kami, pasti punya rencana terbaik. Bagaimana kelanjutan benang ini? Apakah akan selalu kuat? Atau di suatu saat akan putus oleh benang yang lain?

Ah lebih baik aku memikirkan kuliahku nanti. Kutinggalkan peron stasiun ini, pulang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s