“Awal mulanya..” (Cerita 1)

“Yaudah, hati-hati ya! daah!” kulihat dia melambaikan tangannya berkali-kali. Kumal, hitam, kotor. Habis ngapain ya?

Ah ga perlu dipikirin juga, yang penting aku bisa membawa buku ini pulang! Yeay! Terima kasih ya.. Tunggu, siapa? Oiya, namanya Dika! Baik banget. Jarang banget aku nemu cowok yang segampang itu mengalah ke cewek. Aku yakin cowok ini bukanlah tipe cowok yang egois.

Depan gerbang sekolah. Langitnya berwarna merah kelabu. Aku berdiri sendiri di depan halte bus dekat pintu sekolah. Menunggu supir pribadiku. Ah! Kapan datangnya!? Sudahlah, sambil menunggu, lebih baik aku baca buku ini. Baru halaman cover kubuka, ada selembar kertas yang tertempel.

Buat yang seneng karena bisa dapetin buku ini. :p

Hai, sebelumnya maaf kalau lancang. Jujur, gue belum pernah nemu cewe yang seneng baca programming juga. Oiya, lo kelas berapa? Kalo mau bales, di nomer ini aja ya : 08******. Makasih ya, salam kenal.

echo ‘Dika’;

Satu hal yang pertama terlintas : “Apaan sih! Pake ngasih nomer hape segala.”. Tapi karena dia udah baik, okelah aku simpen nomer handphone dia di handphoneku.

Sampai di rumah, aku membuka hp-ku. Sekarang lagi zamannya BlackBerry. Yaudah aku pakenya BB juga ngikutin temen. Kuketik pesan.

Hei! Ngejawab pertanyaan lo tadi, gue kelas X-8. Lo sendiri kelas berapa? Maaf ya baru bales.

Eh, ini Syifa ya? Iyaaa gapapa, gue sendiri kelas X-1.

Kelas X-1? Wah hebat! Setahu aku yang masuk kelas itu cuma anak-anak yang peringkat 10 besar seleksi sekolah, atau anak-anak yang masuk lewat jalur prestasi. Dan ada sedikit anak pejabat di kelas itu.

Ooh, wah hebat X-1 nih! Oiya, gue boleh minta pin bb lo gak?

Wah sori Syif, gue ga pake bb nih, hehe.

Ooh yaudah gapapa, bentar gue telpon lu ya.

…..

“Ooh, yaudah, udah dulu ya telponannya, makasih buat telponannya” kututup telpon darinya. Malam yang gelap, cerita penelponanku yang pertama dengan Dika.

“Yaudah ya, jaga diri kamu disana. Dadaah!”

Kututup telpon darinya. 3 tahun yang lalu pun masih sama. Handphonenya tidak berubah. Entah karena dia tidak suka handphone model sekarang, atau karena dia tidak sanggup untuk membelinya. Aku suka prinsipnya. Aku jadi ingat kata-katanya dulu.

Eh, lo kenapa ga beli bb?

Ga ada uang,hehe. Lagian buat apa hape baru? Toh tujuannya buat telpon sama smsan doang

Benar juga. Dan sampai 3 tahun ini aku masih betah menelpon dia. Masalah surat itu? Aku tidak tahu kenapa dia mengirim surat itu. Apakah kode? Entahlah, mungkin dia mau mencari teman. Karena setahu aku dia tidak punya teman.

Mengapa dia tidak punya teman? Karena kekurangannya tersebut (baca:tidak punya hp bagus). Kekurangan yang menyebabkan kesederhanaan secara tidak langsung, dan kesederhanaan tersebut terlihat lebih indah di mataku dibandingkan yang mempunyai gadget canggih tetapi bukan hasil jerih payah sendiri.

Sederhana? Daripada memikirkan itu, lebih baik tidur dan menunggu kereta tiba di stasiun.

2 thoughts on ““Awal mulanya..” (Cerita 1)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s