Rajin.. (Cerita 7)

Roro sontak menengok karena ada yang tiba-tiba memanggilnya dan menawarkan bantuan. Kaget juga, sepagi ini ada aja yang sudah datang ke sekolah.

“Boleh deh, itu tolong gantungin snack-snack ke atas itu ya!” kata Roro.

“Oke sip” balas Dika.

Setengah enam pagi jelas pagi sekali untuk sekolah macam itu. Jam masuk saja jam 7 pagi, maka siswa jam setengah 6 aneh sekali, kecuali Roro karena ia memang membantu ibunya menyiapkan dagangan di sekolah. Tapi Dika?!

“Lo kok datengnya pagi banget? Bel masuk aja jam 7, rajin banget” kata Roro.

“Eng.. itu, bukan apa-apa kok, udah biasa dateng jam segini. Oh iya, ngomong-ngomong gua belum tahu nama lo, lo siapa? Gua Dika!” kata Dika mengalihkan pembicaraan dan mengajaknya berkenalan. Ia tak mungkin bercerita tentang rencana date-nya dengan Syifa yang gagal total dan dia datang pagi-pagi karena ingin menenangkan diri.

“Serius? Gua setiap hari dateng jam segini buat bantu siapin dagangan ibu gua, dan gua rasa anak-anak sekolah gak ada yang dateng jam segini” kata Roro tidak percaya, tanpa balas mengenalkan diri.

“Ah, gua juga biasa dateng jam segini kali, tapi langsung ke kelas. Gak ke kantin dulu,haha” kata Dika terus ngeles.

“Gak gak, udah lupain,hehe. Oh iya, nama gua Roro!”

“Roro? Roro Jonggrang? Kok bisa kabur ke sekolah ini ya?”

“Wah kampret lo, baru kenalan udah ngeledek aja” kata Roro sambil melempar bungkusan snack ke muka Dika.

“Bercanda doang kok,hehe. Oh iya, ngomong-ngomong lo dateng sepagi ini, apa gak keteteran tuh sama pr-pr? Sekolah ini kan pr-nya parahnya naudzubillah deh, kalo ketinggalan satu pr aja bakal keteteran sama pr yang estafet datengnya.” tanya Dika.

“Gak kok, sama sekali gak kesulitan kok. Gua sih nyantai aja kalo ada pr yang dateng.” kata Roro.

“Wah serius? Masa gua males banget sama pr. Bawaannya kalo ada pr, langsung pengen tidur”

“Nah itu yang salah. Kalo gua sih, kalo dikasih satu pr langsung dikerjain saat itu juga gak pake ditunda-tunda, biar gak numpuk juga.” kata Roro.

“Hmm bener juga.” kata Dika.

Hmm, benar juga. Kadang kita suka menumpuk-menumpuk tugas, dan ketika sudah mendekati batas, kita keteteran untuk menghadapinya. Sebenarnya sebanyak apapun tugas, sebanyak apapun pr yang dikasih itu tidak akan terasa berat apabila langsung dikerjakan pada saat itu juga dan tidak ditumpuk-tumpuk. Benar juga.

Handphone Dika tiba-tiba bergetar. Siapa nih? pikir Dika. Karena sedang asyik mengobrol, sontak panggilan di handphonenya langsung ia tutup. Ganggu orang ngobrol aja, pikirnya.

“Wah gak kerasa udah kelar nih. Makasih ya udah bantu-bantu” kata Roro.

“Sama-sama, gua cabut ke kelas dulu ya.”

Di tempat lain, Syifa masih terbingung sendirian, “Duh, Dika masih marah sama gua ya? Kenapa gak diangkat?!”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s